Safari Ramadan di Masjid Al Alam, Hugua Tekankan Puasa sebagai Jalan Kendalikan Ego

Wagub Sultra Hugua saat menyampaikan ceramah pada momen Safari Ramadan di Masjid Al Alam Kendari. Foto: Istimewa
Penulis: Redaksi
Jumat, 20 Februari 2026 | 22:02:00 WIB

KENDARI – Malam di tepian Teluk Kendari terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya lampu memantul di kubah megah Masjid Al Alam, tempat ratusan jamaah berkumpul dalam rangka Safari Ramadan yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumat (20/2/2026).

Suasana khidmat menyelimuti setiap sudut masjid. Lantunan doa, salam, dan senyum warga menyatu dalam momentum yang bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pertemuan antara pemerintah dan masyarakat dalam balutan ibadah.

Di hadapan jamaah, Wakil Gubernur Sultra Hugua menegaskan bahwa Ramadan adalah waktu untuk menata batin sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Ia mengajak masyarakat menjadikan puasa sebagai kekuatan spiritual yang mampu menghadirkan harmoni di tengah kehidupan sosial.

Menurut Hugua, Safari Ramadan menjadi jembatan silaturahmi antara pemerintah dan rakyat di Kendari, sekaligus simbol komitmen membangun daerah dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berlandaskan nilai keagamaan.

Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa syukur dapat bertemu langsung dengan masyarakat pada Ramadan 1447 Hijriah. Ia menekankan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar bersama untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kualitas keimanan.

"Puasa sejatinya adalah sarana membentuk ketakwaan, yaitu kemampuan mengendalikan ego dan hawa nafsu yang sering kali menjadi sumber konflik dalam kehidupan, baik di keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Hugua.

Mengangkat tema Puasa Sarana Mengendalikan Ego dan Melepaskan Kelekatan Duniawi, ia menjelaskan bahwa ego kerap hadir dalam bentuk kesombongan, kemarahan, keinginan menang sendiri, hingga kepentingan pribadi yang mengabaikan kepentingan bersama. Puasa, kata dia, adalah madrasah spiritual yang melatih manusia menahan keinginan dan menata orientasi hidup.

Bagi Hugua, kemenangan terbesar bukanlah membalas emosi, melainkan kemampuan menahan diri dengan kesabaran. Ramadan, lanjutnya, harus melahirkan kepedulian sosial—membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, serta menghidupkan semangat gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Ia berharap nilai puasa mampu membentuk masyarakat yang jujur dalam bekerja, adil dalam kepemimpinan, sabar menghadapi ujian, dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Safari Ramadan ini juga dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sultra Asrun Lio, jajaran staf ahli gubernur, para asisten, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Direktur Utama RS Oputa Yi Koo, serta sejumlah kepala perangkat daerah lainnya.

Di bawah langit malam Kendari, pertemuan itu meninggalkan pesan yang sederhana namun kuat: pembangunan tidak hanya diukur dari jalan dan gedung, tetapi juga dari kedekatan, kepedulian, dan kualitas spiritual masyarakat yang tumbuh bersama.
 

Reporter: Redaksi